Suara Mbak-Mbak Itu…

18 Dec

Mau dipikir berapa kali pun, kejadian kemarin memang benar-benar memalukan!

Awal cerita, sudah hampir sebulan ini saya bekerja paruh waktu di Direktorat Kemitraan dan Alumni (Dit KA) UGM. Saya dan dua kawan lainnya ditugasi membuat newsletter dan majalah untuk alumni UGM. Karena ruangan Dit KA sedang direnovasi, tim kami pun harus mengalah untuk bekerja di perpustakaan dan baru ke kantor ketika absen pulang.

Nah, hari selasa (17/12) kemarin, mbak Dina, asisten direktur sekaligus atasan saya di Dit KA tiba-tiba jatuh sakit. Saya baru tahu ketika di pagi harinya saya dihubungi mbak Dina untuk memakai mejanya di kantor. Mbak Dina berpesan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan di sana, lebih tepatnya mengerjakan tugas dari Bu Ika, Direktur Dit KA.

Dengan hati yang dag dig dug, saya pun masuk kantor dan duduk di meja mbak Dina. Sambil senyum-senyum sama tetangga-tetangga meja, saya menyalakan komputer dekstop di situ. Tak lupa saya hidupkan pula laptop saya di meja. Tiba-tiba “Kriiiiing… kriiiiing…” suara telepon desk di depan saya berbunyi.

Omaigat! Apa yang harus saya lakukan?

Saya pun refleks menolehkan kepala saya ke arah mbak dan mas yang ada di meja seberang. “Diangkat aja,” kata mereka.

Oke baiklah, ujar saya dalam hati berusaha menenangkan diri.

“Halo, selamat siang. Direktorat Kemitraan dan Alumni.”

“Iya mbak. Saya Ika mau ketemu Bu Dewi…” ucap orang di telepon. Suaranya kecil, pelan, dan terdengar masih muda. Sumpah.

“Oh iya. Tunggu sebentar ya…”

Sedikit panik, saya pun bertanya ke arah mas mbak meja seberang, “Cari Bu Dewi…”

Mas-mas (yang kemudian saya tahu namanya Pak Zam-Zam) dengan baik hati memanggilkan Ibu Dewi. Masalah belum selesai di situ. Sambil berjalan mendekati telepon, Bu Dewi bertanya pada saya yang masih memegang gagang telepon, “Dari siapa?”

Jujur. Waktu itu saya benar-benar khilaf *Maaafkaan sayaaaa*

Dengan raut muka yang bengong dan bingung, saya pun berkata, “Dari Ika, Bu Dewi… Dari suaranya kayaknya mbak-mbak deh…”

Mendengar jawaban saya, Bu Dewi sedikit mengernyit dan langsung mengambil gagang telepon yang ada di tangan saya.

” ………………. Halo ……. Ooh, njih Bu Ika…………………”

Jedaar! Matilah saya.

Detik itu juga kaki saya lemas. Omaigaatt! Itu telepon dari Bu Direktur, meeen! Bisa-bisanya bilang itu dari ‘mbak-mbak’ -______________-”

Rasanya mau terjun langsung ke lantai 1 sambil teriak-teriak dan jambak rambut. Rasanya diri ini orang paling bego sedunia…………

M A L U

Kacau sangatlah hari pertama stay di kantor malah kejadian memalukan seperti itu terjadi. Hiksss

Mana ternyata telepon yang masuk hari itu baanyaaak sekaaaliii, sodara-sodara. Walhasil saya selalu tersentak tiap kali ada telepon masuk. Traumatis, seumur hidup tampaknya. Percayalah, kau takkan mau mengalami kejadian konyol itu.

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: