Kotaku Tak Sekreatif Desaku

6 Dec

Siapa bilang kalau desa itu selalu tertinggal? Stereotip ini langsung terhapus begitu mobil yang dikemudikan oleh Mas Pradna memasuki Desa Karangnangka. Memang jalannya naik-turun berkelok-kelok dan kadang berbatu, tapi setidaknya sudah beraspal semua. Apalagi rumah orang-orang di desa ini ternyata bagus-bagus lho. Sama sekali jauh dari bayangan bahwa rumah-rumah di desa itu selalu berdinding gedhek dan beratap daun.

Rombongan Jogja sedang melihat-lihat kolam gurameh di Karangnangka

Rombongan Jogja sedang melihat-lihat kolam gurameh di Karangnangka

Siang itu, rombongan Jogja mampir ke rumah Mas Krishna untuk melepas penat. Usai ngobrol-ngobrol, kami diajak berkeliling Karangnangka bersama Pak Dirin dan Mas Jalu. Destinasi pertama kami adalah kolam gurameh. Di tanah yang luas itu, ada beberapa petak kolam yang dibuat untuk membiakkan ikan gurameh. Bukan ikan yang dijual, tapi telur gurameh. Katanya, kalo suhunya sedang bagus, satu ekor gurameh bisa bertelur hingga 4000 butir sehari!

Pemancingan Karangnangka

Pemancingan Karangnangka

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke tempat pemancingan ikan yang letaknya tak terlalu jauh. Waah, ramai sekali! Terdapat belasan lelaki baik tua maupun muda duduk di kursi bambu yang mengelilingi sebuah kolam besar. Kata pemiliknya, makin malam pemancingan ini akan semakin ramai.

Satu hal yang menarik dari perjalanan keliling Karangnangka ini; selokan! Mungkin karena kita jarang melihat aliran air bersih di Jogja, selokan Karangnangka ini menjadi sesuatu yang mengherankan. Lebarnya mungkin sampai dua meter. Airnya benar-benar jernih, sampai dasar batunya terlihat. Apalagi ada banyak anak-anak yang main cebur-ceburan hingga mandi di selokan ini. Wuiiih, ingin rasanya ikut main di dalam selokan.

berbincang bersama Pak Soleh pedagang es krim :9

berbincang bersama Pak Soleh pengusaha es krim :9

Usai bermain-main dengan air, rombongan Jogja dibawa ke rumah produksi Es Krim Pak Soleh. Mungkin dari luar tempat ini terlihat kecil, tapi siapa sangka kalau sudah ada lebih dari sepuluh motor keliling yang siap menjajakan β€œes dung-dung” dengan rasa buah asli ini. Apalagi kalau bukan es andalan Pak Soleh yang disuguhkan ke kita. Jujur, ini adalah es dung-dung paling nikmat yang pernah saya coba. Mungkin karena santannya banyak, tekstur es ini lembut seperti pakai susu. Selain itu, varian rasanya juga bermacam-macam. Mulai dari rasa standar vanilla, hingga ke nangka, pandan, durian, dan bahkan jambu! Besok-besok kalau ada yang mau menggelar resepsi, cobalah pesan es krim Pak Soleh, dijamin puas!

Dua tenda plastik ini panaaas banget pas dibuka!

Dua tenda plastik ini panaaas banget pas dibuka!

Jalan-jalan Karangnangka belum berhenti di situ. Di depan rumah Pak Soleh, ternyata ada sebuah rumah dengan dua tenda plastik di halamannya. Rupanya, tenda-tenda ini berisi telur gurameh yang baru dipanen. Begitu plastiknya dibuka, udara panas mengebul dari dalam. Memang, dibutuhkan suhu yang cukup hangat untuk menyimpan telur gurameh ini. Kata bapak pemiliknya, harga telur dihitung Rp 30,- per satuannya. Kadang naik, kadang turun. Kebetulan kondisi alam di desa Karangnangka lebih cocok sebagai produsen telur gurameh dibanding memasok ikan gurameh konsumsi.

Ups! Pemiliknya lagi shooting~

Ups! Pemiliknya lagi shooting~

Tibalah rombongan Jogja di tujuan akhir desa Karangnangka, yakni peternakan sapi perah Barokah. Rupanya, sang pemilik peternakan sedang dishoot oleh dua mahasiswa Unsoed. Si bapak ini dulu mantan buruh migran yang sudah 10 tahun di Korea Selatan lho. Begitu pulang, beliau mengembangkan usaha ini, dan berhasil sukses. Ketika kita ke sana sayang sekali stok susu siap minumnya sedang habis. Meski begitu, kita tetap bahagia bisa melihat sapi perah dari jarak sedekat ini kok. Jarang-jarang kan bisa lihat langsung sapi belang-belang yang gambarnya terkenal di kotak-kotak susu itu.

Meski jalan-jalan di Karangnangka ini cuma sebentar, tapi kita sudah bisa melihat banyaknya usaha yang berkembang di desa ini. Orang-orang di desa ini kreatif sekali ya. Mereka bisa memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya untuk dijadikan bisnis. Selain menambah pundi-pundi uang, mereka pun turut membantu menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar. Hebat bukan? Coba bandingkan dengan masyarakat perkotaan. Pola pikirnya sudah berbeda. Masyarakat kota jarang yang bisa berpikir kreatif menciptakan lapangan kerja sendiri. Kebanyakan hanya ikut bekerja di tempat orang….

Sayang memang, kotaku tak sekreatif desaku.

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: