Sudah. Cukup. Gila

29 Jun

GILA!

Entahlah apalagi yang harus dikatakan. Memang hanya satu komentar yang pas, “Kau memang sudah gila!”

Yah itulah mengapa saya tak katakan pada siapa pun tentang kejadian bodoh ini. Sudah pasti cercaan yang akan datang bertubi-tubi, mencabik-cabik telinga dan hati ini dengan buas.

Saya tahu ini salah saya. Semuanya bermula dari keteledoran! Ya, saya tahu itu. Maka dari itu, semua tindakan bodor kemarin saya anggap sebagai penebusan rasa bersalah.

Bisa-bisa aku jadi GILA sungguhan bila saya tak lakukan hal itu. Yaah, semua itu benar-benar murni tindakan dari hati. Tak sempat otak ini mencerna.

Haha. Ingin rasanya tertawa jika mengingat lagi saat-saat 3 x 24 jam yang lalu itu…

Kau tahu kejadian perang batin yang biasa ada di televisi? Saya merasakannya! Seakan-akan pada waktu itu otak yang seharusnya berpikir logis sudah kehabisan senjata perang, tak tahu lagi harus berbuat apa. Maklum, terlalu banyak syok yang otak ini alami di pagi hari. Hanya dalam hitungan sepersekon, hati ini memenangi debat dan memerintahkan otak untuk melakukan apa yang dia inginkan.

dan itu GILA!

Tak cukup hanya sekali di pagi hari, tapi DUA KALI! Bayangkan dua kali saya harus berpacu dengan waktu, seraya membendung arus air terjun yang begitu kuat. Kalimat yang sudah dirangkai-rangkai di otak pun tak jadi terucap karena memang tak ada kesempatan. Menyedihkan memang.

 

“… nanti saya pertimbangkan…”

Cukup.

Yah. Hanya satu kalimat itu saja yang terdengar. Seakan-akan semua adrenalin yang sudah terpompa, semua keringat dingin yang sudah merembes, semua detik penantian yang sudah berlalu, semua bensin yang sudah terbakar… terbayar sudah.

.Sudah.

.Cukup.

Sungguh, waktu kaki itu berpaling, tak ada lagi usaha yang bisa saya lakukan untuk membendung arus air terjun yang makin membabi buta..

Buk! Buk! Dada ini rasanya sesak. Butuh ditepuk-tepuk…

Ke mana lagi yang saya harus berlari? Hanya di rumah-Nya lah saya bisa jujur, melepaskan semua rasa bersalah, rasa menyesal, rasa bersyukur…

“… tapi saya tidak janji…”

ndak papa… saya sadar saya salah.

Sudah.

Cukup.

Lega.

Tidak kau, tidak pula dia. Takkan seorang pun yang akan tahu peristiwa GILA ini pernah terjadi.

Cukuplah hanya aku, orang itu, orang ini, anak itu, anak ini, semua benda di tubuh ini, dan TUHAN yang tahu.

Sudah.

Cukup.

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: