Sweet Memories Last Forever

15 Jun

Apa lagi yang bisa saya komentari soal film dokumenter yang satu ini?

Hanya satu kata; FANTASTIS!

Film I AM. ini berkisah tentang perjalanan SM Town Family sedari awal debut hingga penampilan ‘puncak ‘mereka di Madison Garden Square, New York tahun 2011. Puncak? Ya, mereka adalah artis Asia pertama yang konser di panggung legendaris tempat artis sekaliber Michael Jackson dan Madonna pernah tampil. Percaya atau tidak, tiket konser mereka ini bahkan sold out!

Banyak yang suka, tentu banyak pula yang benci. Kalau Anda termasuk orang yang sinikal pada hingar-bingar dunia K-Pop, mungkin sekali waktu Anda dapat meluangkan dua jam untuk menyaksikan film dokumenter ini. Tak perlulah memandang sebelah mata jika Anda belum tahu bagaimana perjuangan mereka. Soal teknik di film ini, janganlah khawatir. Orang-orang Korea Selatan hidup dari dunia hiburan. Tangan, otak, dan teknologi mereka sudah di level langit ketujuh!

Hmm.. susah memang bicara soal K-Pop. Bagaimana pun juga, saya ‘tumbuh’ bersama mereka. Begitu banyak kenangan yang berseliweran ketika bicara K-Pop, terutama artis-artis SM Entertainment! Ah, terlebih jika sudah menyangkut lagu Sorry Sorry. Atau Lucifer. Atau Gee. Atau Bonamana. Atau… ah banyak! Bukan hanya lagunya, bukan hanya artisnya, tapi kebersamaan saya dan teman-teman saya…

Ada yang bilang, teman-teman SMA Anda akan menjadi teman seumur hidup Anda. Mungkin kalimat ini ada benarnya. Wah, saya sangat berterima kasih pada lagu-lagu SMEnt yang sudah menjadi backsound utama waktu itu. Kenangan saya akan masa-masa itu menjadi semakin kuat berkat adanya ‘himne-himne’ ini.

Oleh karena itu, sebenarnya agak susah bagi saya memberi penilaian objektif pada film I AM. ini…

Ketika diceritakan bagaimana awal mula Shinee debut… Ketika ditampilkan bagaimana penampilan pertama SuJu… Ketika ditunjukkan bagaimana rupa SNSD dulu… Ketika diperlihatkan dance DBSK di New York… Ketika itu pula otak saya langsung memproyeksikan keadaan living room di mana SUJU X kerap berlatih. Wajah-wajah tiap personel pun turut muncul ketika si bias diwawancara.

Ah.

Akibatnya, selama film ini berputar, selama itu pula kedua ujung bibir ini sering tersungging. Tak jarang, kening ini pun harus mengernyit menahan rasa haru yang membuat pandangan mata menjadi kabur.

Walau banyak yang bilang Oom Lee Soo Man itu terlalu kejam memperlakukan artisnya, harus saya akui saya ingin ucapkan terima kasih atas kerja kerasnya. Kalau dia tidak segetol itu, mungkin nama Suju, SNSD, Shinee, DBSK, atau f(x) tidak akan semendunia ini. Nah, kalau nama mereka tidak seterkenal itu, mungkin, mungkin saja masa SMA saya tidak akan penuh kenangan seperti ini.

Kedengarannya terlalu lebay, ya? Yah, tapi mau bagaimana lagi. Itulah apa yang saya rasakan usai menyaksikan I AM.

Entahlah, padahal kenangan itu baru berlalu dua-tiga tahun yang lalu. Namun rasa kangennya sudah separah ini. Fiuh.. kalau seperti ini, saya tak berani membayangkan sebesar apa rasa kangen yang melanda saya dua puluh – tiga puluh tahun mendatang~

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: