LGBT, there’s no such a thing called natural for this

1 Dec
Hati-hati nih, LGBT mengidentikkan diri mereka dengan warna pelangi mejikuhibiu~

Hati-hati nih, LGBT mengidentikkan diri mereka dengan warna pelangi mejikuhibiu~

Pernah dengar istilah LGBT? Istilah ini singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, sebutan bagi penyimpangan orientasi seksual. Yah, tak usah berlama-lama membahas istilah inilah ya. Mbah gugel pasti bisa membantu kalian🙂

Nah, dalam berbagai perdebatan tentang hal ini, tentu sering terdengar komentar dari kalangan pro, “Kami tidak bisa apa-apa. Ini sudah bawaan dari sononya. Kita memang terlahir sudah seperti ini.”

Hmm. I completely disagree with this kind of opinion. Seperti yang tertulis pada judul di atas, there’s no such a thing called natural for this topic.

Kalau dinalar, semua orang yang lahir ke dunia ini ibarat kertas putih yang belum ada tulisan apa pun. Kemudian lingkungan sekitarnya, orang-orang yang berinteraksi dengannya, bacaan dan tontonan yang ia konsumsi, dan pengetahuan yang ia peroleh dari dunia luarlah yang akan memberi warna pada kertas tersebut.

Banyak faktor yang bisa mempengaruhi seseorang sehingga bisa berubah haluan dari kodratnya sebagai manusia yang berpasang-pasang. Misalnya, seorang anak lelaki yang diperlakukan seperti perempuan oleh keluarganya, karena pada awalnya ia diprediksi sebagai perempuan. Bajunya, perlakuannya, permainan yang dibelikan,  semua berhubungan dengan wanita. Isn’t it obvious if someday he would became a gay? kalau kalau agamanya tidak kuat, dan keluarganya tidak ada yang mengingatkan, keadaan LGBT jadi sangat mungkin terjadi, bukan?

banyak orang kalangan post-modernism yang memiliki paham seperti ini...

banyak orang kalangan post-modernism yang memiliki paham seperti ini…

Contoh lainnya nih, misalnya saja seorang gadis yang memiliki keluarga yang kurang harmonis. Ayahnya bukanlah figur lelaki yang baik. Tak hanya kekerasan saja hobinya, tapi perbuatan maksiat lainnya. Ada lho, orang dengan background keluarga seperti ini kemudian menyebabkan si gadis membenci kaum lelaki dengan amat sangat! Tanpa terkecuali. Apa akibatnya? Balik lagi, kalau kalau agamanya tidak kuat, dan keluarganya tidak ada yang mengingatkan, keadaan LGBT jadi sangat mungkin terjadi, bukan?

Dua contoh di atas, merupakan kasus traumatik masa kecil. Tapi, tak sedikit pula orang yang semasa kecilnya normal-normal saja. Sayangnya, di masa dewasanya ia salah masuk clique, kelompok bermainnya ternyata memiliki paham liberal, “Mau cowok mau cewek sama aja deh,  yang penting gua suka lo, lo suka gua, end of story.” Wah wah, ternyata bener lho pepatah lama yang menyebutkan, kalau mau wangi dekat-dekatlah dengan tukang parfum. Kalau dekat dengan tukang bengkel, bau oli yang akan menempel.

Pengaruh dari peer itu kuat sekali lho, bahkan bisa lebih kuat dari pengaruh orang tua! Terkadang kita terlibat dalam mute group, mau tak mau kita harus setuju dan ikut dengan paham dalam kelompok kalau tidak mau dikucilkan. Bahaya nih. Awalnya kita hanya menoleransi aktivitas yang berbau LGBT, kemudian kita merestuinya, jangan-jangan setelah sekian lama kita bakal terlibat di dalamnya. Hiii..

Segalanya di dunia ini diciptakan berpasang-pasangan. Ada siang, ada malam. Ada jahat, ada baik. Ada tebal, ada tipis. Ada gelap, ada terang. Ada wanita, ada lelaki. Pas bukan? Kalau sesama, apa itu bisa disebut berpasangan? *tolong lihat konteksnya ya, seperti contoh-contoh sebelumnya* Kalau sesama, mungkin lebih baik disebut kawan karib kali yaa. Sodaraan deeh.

See, there’s no such a thing called natural for this topic. Trust meh🙂

alasan klasik,

alasan klasik, “cinta memang buta”. duh buta sih buta tapi ga segitunya juga kali ya

Saya yakin 100% ini cuma masalah konsep yang terbentuk di pikiran semata. Kalau orang-orang ini bisa dan rela merubah sudut pandang mereka, saya yakin mereka masih bisa jadi orang yang lurus (straight). Pintu taubat akan selalu terbuka bagi orang-orang yang benar-benar mohon ampun atas kelalaian mereka ini. Rada serem juga sih ngebayangin cerita kaum Nabi Luth. Naudzubillaaaah

Buat kawan saya tersayang di luar sana, aku yakin banget kamu cuma salah belok untuk sementara. Ayo buruan putar balik ke jalan yang bener, yuk. Sebelum kamu berjalan terlalu jauh..

Serius. Aku takut, banget banget banget, kalau udah terlalu jauh, tanganku udah nggak sampai buat narik kamu lagi….

Kamu tahu ini salah kan? Atau jangan-jangan kamu udah merasa nyaman? Ya ampun, jangan sampai yah. Yakinlah, seyakin-yakinnya yakin, suatu saat sosok yang tepat akan datang padamu, whatever your condition is. Aku mohon dengan amat sangat, sudahilah kegilaan dunia ini, kawan. Aku mohooon banget yah. Don’t ruin your achievements, talents, and your God’s blessing only with this kind of thing. This is too much, buddyI’m begging you. Please . . .

2 Responses to “LGBT, there’s no such a thing called natural for this”

  1. pengopeng 1 December 2012 at 09:55 #

    Reblogged this on pengopeng.

    Like

  2. pengopeng 1 December 2012 at 09:55 #

    n.i.c.e!
    ijin reblog ya kakak😀

    Like

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: