Mesin – Mesin Jenius Chaplin

28 Nov

Judul                    : Modern Times

Tanggal Rilis      : 5 Februari 1936

Durasi                   : 87 menit

Pemain                  : Charlie Chaplin, Paulette Goddart

Siapa yang tak kenal sosok Charlie Chaplin? Salah satu komedian legendaries ini sukses mematenkan gayanya yang eksentrik melalui karakter “Little Tramp” yang muncul di puluhan filmnya. Kumis tebal separuh, topi plus setelan jas pas badan, tongkat, serta gaya berjalan khas yang seperti bebek ini seakan telah menjadi ciri khas dari Charlie Chaplin. Tak diragukan lagi, film bisu (silent film) memang merupakan bidang keahlian Chaplin. Ekspresi mukanya yang sangat fleksibel serta keahliannya dalam komedi slapstick menjadikan Chaplin sebagai “master” dalam dunia silent films. Kecintaannya padasilent film inilah yang kemudian membuat Chaplin memproduksi film Modern Times ini di saat film-film bersuara sudah banyak diproduksi sejak tahun 1927.

Film Modern Times secara garis besar berkisah tentang suatu kritik sosial bagaimana penggunaan mesin telah menjadikan manusia nomor dua dalam dunia industri. Seperti yang digambarkan di scene-scene awal film ini yang menunjukkan betapa mesin dapat membuat orang menjadi gila! Keluar dari rumah sakit jiwa, Chaplin ternyata malah dijebloskan ke penjara karena ada salah paham ia adalah pentolan komunis. Karena berperilaku baik, beberapa saat kemudian Chaplin dibebaskan. Ia kemudian mencari pekerjaan. Mulai dari tukang kayu di proyek kapal laut, menjadi penjaga malam di toko, hingga akhirnya berujung menjadi penyanyi di sebuah kafe. Nasib kemudian mempertemukannya dengan seorang gadis gelandangan (Paulette Goddart) yang menjadi kekasihnya. Mereka berdua berjuang untuk terus hidup bahagia meski tak banyak harta [FYI, mereka beneran nikah loh pada bulan Juni 1936. Kira-kira 4 bulan setelah film ini dirilis. Tapi sayangnya mereka berpisah beberapa tahun kemudian].

Selama durasi 87 menit, penonton secara terus-menerus disajikan komedi-komedi slapstick dari Chaplin. Gerakan-gerakannya natural, tidak terlihat dipaksakan sama sekali sehingga tiap saat penonton dikejutkan dengan gerakan tak terduga Chaplin yang memancing tawa. Hebatnya, dalam film ini Chaplin tak hanya menjadi aktornya saja, namun sekaligus menjabat sebagai produser, sutradara, penulis naskah, bahkan komposer musik instrumentalnya!

Salah satu adegan terkenal dari film ini adalah saat Chaplin tiba-tiba terseret masuk dalam roda-roda mesin raksasa. Ia berputar-putar di antara gigi tersebut dan untungnya dapat kembali keluar dari sana dengan selamat (mulai detik 14:04). Tenang. Chaplin tak benar-benar masuk dalam mesin sungguhan. Bagian ini telah direkayasa secara unik dan jenius oleh Chaplin. Bahkan hingga saat ini masih ada orang-orang yang mencoba menirukan trik hiburan yang tampak ‘berbahaya’ ini.

Tak hanya itu, ide liar dari Chaplin juga muncul dalam perwujudan mesin yang dapat membantu manusia makan. Di satu sisi, kita bisa lihat bagaimana Chaplin memandang mesin yang dibuat untuk mempermudah hidup manusia, namun suatu saat malah justru sangat menyusahkan. Tapi di sisi lain kita juga bisa melihat betapa besar dedikasi Chaplin untuk membuat properti mesin-mesin yang ada di film. Sama halnya dengan produksi separuh kapal dari kayu berukuran besar yang hanya muncul beberapa detik saja di film.

Kejeniusan Chaplin tak hanya sampai di situ. Meski diproduksi di saat film bersuara telah mengambil alih dominasi, Chaplin ingin tetap mempertahankan aspek silent film seperti dengan keberadaan intertitle berisi teks pengganti dialog. Namun Chaplin juga tak ingin dianggap ketinggalan zaman. Film ini tak murni 100% film bisu, ada beberapa bagian saat si tokoh terdengar berbicara: bos pabrik, sales mesin untuk mempermudah makan, dan lainnya. Namun, suara ini direkam di studio yang berbeda. Hanya ada satu part bersuara yang berasal dari rekaman langsung ketika pengambilan gambar; Charlie Chaplin mengizinkan tokoh “Little Tramp”-nya untuk bersuara secara langsung ketika menjadi penyanyi di kafe, untuk pertama kalinya.

Tapi di atas itu semua, ingatlah bahwa film ini dibuat tahun 1932 hingga 1936, saat di mana bahkan bangsa Indonesia masih dijajah kompeni -,- Bahkan pada waktu itu konsep CCTV sudah dimunculkan dalam film. Hebat, bukan?

Bagi Anda penikmat film, menyaksikan Modern Times tentu akan menjadi pengalaman unik yang tak boleh terlewatkan. Begitu menonton, dijamin Anda akan maklum mengapa nama Charlie Chaplin begitu agung dalam jagat entertainer komedi. Namun, meski film ini tak bersuara seperti banyak kartun, anak-anak tidak disarankan untuk menonton karena banyak adegan yang belum pantas ditonton bagi anak di bawah umur. Selamat menonton, dan rasakan sensasinya!

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: