Gathering IAIC Jogja 2012!

1 Jul

Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan.

Tak terasa waktu cepat sekali berlalu. Sepertinya baru kemarin, Axivic disambut oleh keluarga besar IAIC Jogja untuk buka bersama di Xtra Hot Jakal, juga makrab di Kaliurang, hingga terpilihnya Kak Imam Hakim Firdaus (IC 12) jadi ketua IAIC Jogja. Eeeh, tiba-tiba sekarang sudah di penghujung tahun ajaran 2011/2012, yang artinya akan ada keluarga baru lagi buat IAIC Jogja, angkatan IC 15, yaitu adek-adek Gycentium.

Gathering IAIC, seharusnya acara ini dilakukan di tengah tahun sebagai sarana evaluasi kegiatan IAIC yang sudah-sudah. Namun apa daya karena kurang aktifnya kita, anak Axivic, dalam isu ke-IAIC-an, dan kurang intensnya hubungan kita dengan kakak angkatan, akhirnya gathering ini baru dilaksanakan di penghujung tahun. Yaa.. walaupun angkatan Nozo cuma 8 orang-an, kakak Cive juga cuma 3 orang, plus kak Syarif yang maunya dipanggil ‘paling dewasa’, bukan ‘paling t*a’, alhamdulillah acaranya berlangsung lancar.Acara yang diketuai oleh mas Barmen pun resmi dimulai pada Sabtu malam. Usai shalat Isya’ dan makan malam, semuanya diajak ke pantai. Di sana setumpuk kayu bakar sudah siap dinyalakan. Jadilah kita dibagi jadi 4 kelompok besar untuk mentoring, sekadar sharing pengalaman IAIC dari kakak angkatan. Satu jam berlalu. Api unggun sudah berubah jadi bara-bara api. Angin malam yang super kencang juga semakin membabi buta menyelusup di balik jaket. Akhirnya, kegiatan inti gathering pun dipindah ke halaman Losmen Trias.

Semua sudah duduk rapi di koridor losmen. kak Syarif, selaku kakak ‘paling dewasa’ memulai materi ke-IAIC-an. Ungkapnya, IAIC kekurangan sumber daya manusia. Alumni Insan Cendekia memang banyak, tapi yang mau aktif di IAIC hanya sedikit. Dengan sesekali ditimpali kak Radit dan kak Imam, kak Syarif terus bercerita tentang

kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan di IAIC. Ada Jiwandaru, Baitul Maal wa Tamwil (BMT), juga IAIC Learning Center (ILC). Ada juga kegiatan informalnya seperti futsal dan lainnya. Struktur IAIC Jogja pun diupgrade.

Satu-satu kita ditodong untuk memilih masuk divisi Internal, Eksternal, atau Pemikat (minat dan bakat). Setelah dijabarkan gambaran jobdesk-nya, semua berkumpul sesuai divisinya untuk merumuskan proker-prokernya.

Nah, seberat apapun materi makrab, kuliner bernama Jagung Bakar tentu tak boleh dilewatkan. Dua kantong ‘batu bara ala Barmen’, dua botol saos, serenteng susu manis, dan 12,5 kg jagung manis disiapkan. Awalnya, Yofie, Ajis, dan Odon (tamu dari depok) sudah mulai bakar-bakar di pojok halaman losmen, kupas-kupas jagung, sampai ngambil pager tetangga buat dijadikan tusuk jagung. Karena bumbu-bumbu semua ada di tasku, walhasil bergabunglah aku + Nisya jadi seksi konsumsi.

“Waah, jauh-jauh belajar ilmu politik. Ujung-ujungnya jadi tukang bakar jagung!” Guyonan demi guyonan terus terlontar. Sementara yang lain serius membicarakan masa depan IAIC, kita berlima dengan bahagia membakar jagung walau badan bau asep semua. Terkadang, pekerjaan kita berhenti sedetik. Ada yang mau lewat jalan, ada yang dateng request jagung susu pedasss, ada juga kakak-kakak yang ngegombalin Ajis. Pokoknya malam itu puas banget banget banget berurusan dengan jagung. Haha

Saking serunya, acara yang awalnya cuma dijadwalkan sampai jam 10 malem, baru berakhir sekitar pukul 1 dini hari. Superb!

Losmen Trias yang kita tinggali juga lumayan, setidaknya jauh lebih bagus dari bayanganku semula. Esok paginya, seperti yang sudah ditebak, orang-orang masih teler hingga pukul 7 pagi. Hanya kakak-kakak Nozo yang aku liat semangat main ke pantai pagi-pagi. Yang lain? Masih molor di kasur. Usai makan nasi goreng plus telor ceplok, jadwalnya games! Sayang, karena banyak yang ada acara hari minggu itu, tak semua mengikuti acara sampai selesai. Akhirnya, games yang bertujuan agar kita lebih kenal antar angkatannya dibatalkan. Gimana enggak? Orang yang masih bertahan sampai akhir cuma anak Axivic ditambah tiga kakak Nozo: kak Za’im, kak Irsyad, ama kak Arif. Sama aja dong, kita udah kenal ini -____-” Akhirnya, kita main-main saja di pantai.

Rombongan meninggalkan lokasi sekitar pukul 11. Karena keterbatasan helm, akhirnya AndiraΒ yang dengan senang hati menemani mbak Icha naik bis balik ke Jogja. Wuiih.. anginnya kencang! Yaa. Walaupun ban motor Syarof sempet bocor di jalan, hingga Fuzta dan Adib ikutan nunggu ban selesai ditambal, alhamdulillah kita semua berhasil sampai di rumah dengan selamat.

Semoga, acara IAIC selanjut-selanjutnya bisa berjalan dengan lancar lagi. Siapa sih yang nggak pengen berkontribusi buat almamaternya tercinta? Siapa sih yang nggak mau punya banyak koneksi sama kakak-kakak angkatan yang hebat-hebat itu? Siapa sih yang nggak pengen punya ‘keluarga kedua’ di tanah rantauan saat menimba ilmu? Oleh karenanya, saya sangat berharap semoga saja IAIC ke depannya bisa menjadi organisasi alumni yang kompak dan bisa menghasilkan ‘sesuatu’. AminπŸ™‚

One Response to “Gathering IAIC Jogja 2012!”

  1. wulan dio amata 20 November 2012 at 05:06 #

    .lebih dari sesuatuπŸ™‚

    Like

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: