Kucing Tua dan Tikus Kota

19 Feb

Seekor kucing tua pernah bercerita padaku. Saat ia masih aktif jadi kucing muda, banyak sekali tikus-tikus yang bisa ia tangkap. Di mana pun tikus itu bersembunyi, si kucing pasti selalu bisa menemukannya. Tikus desa memang lemah. Kalaupun ada yang cukup cerdik, kecerdasan mereka tak akan bisa menandingi sekelompok kucing yang jauh lebih besar dari mereka.

Namun, kucing tua mengeluh. Ada legenda tentang si tikus kota. Dia sangat sangat besar. Tikus kota ini memiliki kekuatan yang menggurita. Hanya dengan duduk santai di sarang, di hadapannya akan tersedia makanan manusia yang sangat lezat. Tikus bawahannya sangat patuh padanya. Terkadang si tikus kota memberi bawahannya itu secuil makanan manusia yang sangat lezat, agar si tikus desa tetap setia padanya.

β€œTikus bawahan itu masih sekelas dengan tikus desa,” kata kucing tua. Tikus-tikus desa ini tetap sama walau mereka sudah di kota. Tetap mudah terendus dan tertangkap. Tapi si tikus kota berbeda. Bahkan beberapa kucing sudah jadi bawahan si tikus kota! Kucing-kucing ini berkomplot menutupi keberadaan tikus kota dari manusia juga dari kucing lain.Manusia takkan tahu keberadaan si tikus kota. Banyak yang melindunginya, baik tikus maupun kucing yang sama-sama dari desa. Entah apa yang mereka buru. Kerat-kerat makanan manusia milik tikus kota mungkin?

Nah, saat si tikus kota ingin makanan manusia, ia tinggal suruh saja beberapa tikus desa untuk mencurinya dari lemari pendingin manusia. Haha. Tak ada masalah berarti bagi tikus desa bawahan si tikus kota. Mereka tak sebodoh dulu. Dengan mudah tikus desa mengambil makanan manusia meski sudah disimpan dengan rapi.

Agar manusia tak lekas curiga, si tikus kota mengutus kucing-kucing desanya untuk mengejar tikus desa. Tangkaplah satu-dua tikus desa dan serahkan pada manusia. Biarlah manusia-manusia bodoh itu menghukum tikus desa yang malang. Terkadang malah ada tikus desa yang tak sengaja lewat dekat lemari pendingin, ikut tertangkap pula! Haha. Kasihan betul nasibnya.

Namun si kucing tua yang sudah renta tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya mampu berkisah pada keturunannya. Sayang tak ada yang percaya tentang legenda si tikus kota. Kalaupun ada yang berusaha berburu si tikus kota, hmm, nyawa taruhannya. Bisa-bisa kucing-kucing desa mengeroyok kucing pemburu, dan berkata pada manusia bahwa kucing sok pahlawan itulah yang mengambil makanan dari lemari pendingin. Habislah ia.

Berdiri bulu kudukku mendengar kisah itu. Seram betul si tikus kota. Cakar kucing sudah tak mampu menghentikan laju tikus kota. Cakarnya sudah tumpul. Sedangkan kulit tikus kota itu makin lama makin tebal juga kebal dari cakar kucing.

Aku jadi takut, otakku kalut. Jangan-jangan jika ia sudah bosan dengan makanan manusia, ia akan langsung makan daging manusia!

Hati-hati ya, jangan-jangan saat ini si tikus kota sedang mengawasi kamu dari sudut sarangnya. Hati-hati juga ya, jangan-jangan esok hari makanan kamu sudah berkurang tanpa jejak. Jika itu terjadi, jangan asal panggil kucing. Jangan-jangan kucing itu termasuk kucing desa. Tengoklah jejak kucing itu, ada boroknya tidak. Himpun dulu Β teman manusiamu, cari informasi kucing mana yang bisa dipercaya.

Memang sudah seharusnya sekarang kucing dan manusia mulai kerja sama untuk menemukan si tikus kota ini! Kalau mau beri umpan, jangan cuma kasih coklat koin. Sekalian saja umpankan coklat van houten. Itu baru makanan kelas tikus kota…

Jangan bingung, kisah ini mungkin saja fiktif. Tapi juga jangan terlena, karena tak hanya dari si kucing tua saja aku dengar kisah gila ini. Banyak burung yang sudah berkicau soal tikus kota. Apalagi akhir-akhir ini. Fiuh, riuh sekali kicauan mereka. Hampir saja aku tak dapat tidur.

Yah, mari kita berharap saja agar si tikus kota tiba-tiba saja terserang diare akut. Makanan manusia meracuninya dari dalam. Hingga pada akhirnya dia pun membusuk di sudut sarangnya yang tak diketahui siapa pun. Siapa pun. Dunia manusia pun jadi lebih tenteram. Tikus desa kembali berlarian dikejar kucing yang lebih perkasa. Namun burung-burung itu akan terus berkicau, meski tak lagi bincangkan soal tikus kota.

Lalu bagaimana denganku? Hm.. Mungkin aku akan mencoba tetap sibuk mendengar kisah kucing tua yang lain.

tulisan ini juga aku muat di kompasiana.com

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: