Masa-masa Kelam Bangsa Besar Bernama Indonesia

5 Feb

Judul: Zaman Edan, Indonesia di Ambang Kekacauan

Penulis: Richard Lloyd Parry

Penerjemah: Yuliani Liputo

Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta

Tanggal terbit: Cetakan I, Mei 2008

Tebal buku: 451 halaman

Indonesia. Sebuah kata yang dapat melahirkan berjuta deskripsi tentangnya. Bisa jadi kata Indonesia menghadirkan bayangan surgawi yang melenakan hati dalam benak orang yang memikirkannya. Atau mungkin kata ini malah mendatangkan suatu semburat kegelapan yang membuat bulu kuduk orang merinding saat mengingatnya.

Sejarah tentang Indonesia mungkin menjadi salah satu area abu-abu—cenderung hitam—dalam memori orang-orang. Banyak bab dalam sejarah Indonesia yang masih belum jelas keabsahannya. Apa yang kita ketahui sekarang belum tentu benar. Banyak orang yang memiliki kepentingan di Indonesia, yang dengan kekuatannya mengaburkan peristiwa yang sesungguhnya terjadi di Indonesia.

Di sinilah kepentingan buku ini hadir. Menceritakan saat-saat penting—dan juga genting—sejarah Indonesia antara tahun 1996 hingga 1999. Di dalamnya ada tiga sub bab besar: pembantaian besar-besaran orang Madura oleh suku Dayak di Kalimantan tahun 1997-1999; momen berakhirnya Orde Baru dan dimulainya masa Reformasi tahun 1998; dan pelepasan Timor Timur dari naungan Garuda Indonesia yang penuh abu hangus tahun 1998-1999. Semuanya ditulis berdasarkan reportase pengalaman penulis sendiri, yang merupakan koresponden luar negeri untuk majalah The Times, London.

Buku tentang sejarah Indonesia ini cukup menarik untuk dibaca. Ditulis oleh seorang wartawan asing, sejarah Indonesia disajikan dengan rasa yang berbeda, tak lagi menjemukan namun menegangkan. Pada bab pertama, pembaca akan diajak mengenal Indonesia secara umum dari pandangan kacamatanya. Untuk tambahan informasi, bab awal ini dibutuhkan karena sebenarnya buku ini dituliskan dalam bahasa Inggris dengan judul asli “In the Time of Madness: Indonesia on the Edge of Chaos”. Dapat dipastikan bahwa pembacanya adalah masyarakat internasional yang belum tentu mengetahui apa itu Indonesia.

Kisah pertama yang ditulis dalam buku ini adalah tentang perang antara suku Dayak dan suku pendatang, Madura di bumi Kalimantan. Richard, si penulis, tertarik untuk mengunjungi Kalimantan setelah rekannya memperlihatkan foto eksklusif kepala seorang lelaki yang terpenggal yang tergeletak begitu saja di tanah—sesuatu yang mustahil di era modern menurut Richard.

Ditemani orang pribumi bernama Budi, pada tahun 1997 Richard datang ke Pontianak untuk memenuhi rasa penasarannya. Ia menjelajah masuk ke perkampungan suku Dayak. Di sanalah ia merasakan betapa kuatnya atmosfer permusuhan antara kedua suku. Banyak rumah terbakar habis yang dulunya adalah pemukiman orang Madura. Ia menyaksikan sendiri tengkorak-tengkorak berserakan—dan ada yang sudah meleleh. Tak hanya orang dewasa, bahkan anak-anak pun ikut dibantai.

Di setiap ekspedisinya, Richard pasti berusaha menemui sumber-sumber terpercaya untuk mengumpulkan data dalam tulisannya. Seperti pertemuannya dengan seseorang, yang tidak mau disebutkan namanya, yang memiliki foto-foto tak terpublikasikan. Ia juga menemui dua pemuka agama yang menceritakan padanya kengerian apa saja yang pernah terjadi. Selain itu, ia juga berbicara dengan orang Jawa yang dihinggapi ketakutan dianggap sebagai orang Madura. Dari banyaknya cerita para sumber, pembaca akan cukup memahami—bahkan muak—betapa kejamnya perang antarsuku ini.

Jika di tahun 1997 kisah kekejaman tersebut hanya didengar dari cerita orang-orang, maka di tahun 1999 penulis benar-benar mereportasekan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Perpecahan kembali terjadi, bahkan lebih kejam. Di jalan-jalan ia melihat kepala orang yang sudah hancur dipajang di atas meja. Orang-orang Dayak yang dengan senyum di wajahnya menenteng bungkusan-bungkusan yang meneteskan darah.

Satu peringatan bagi para pembaca, bab ini benar-benar bagian dari buku Zaman Edan yang sangat mengerikan. Jika Anda bukan orang yang kuat membaca kata-kata daging, isi perut, digorok, disayat, dan kata-kata keji lainnya, jangan coba-coba membaca bab ini hingga selesai. Karena di akhir Anda hanya akan menemukan perasaan mual yang tak berkesudahan. Tak percaya memang, tapi inilah kenyataan yang pernah terjadi di Kalimantan. Beritanya tidak terlalu heboh di media massa, oleh karenaitu buku ini dapat dijadikan rujukan bagi Anda yang ingin mengetahui kebenaran berita tentang pembantaian etnis ini.

Pada bab kedua, pembaca akan diajak kembali ke kota, meninggalkan bayangan liarnya kehidupan di hutan. Sedikit biografi Soeharto dan kedigdayaannya semasa Orde baru diceritakan di sini. Pembantaian anti-komunisme tahun 1965-1966 yang dilakukan oleh warga masyarakat biasa tak luput pula untuk dikisahkan di dalamnya.

Bab dua ini cukup seru untuk diikuti. Pembaca akan dibawa ke suasana demonstrasi di kampus Trisakti yang menewaskan empat mahasiswa. Bagaimana mencekamnya suasana penjarahan besar-besaran terutama kepada orang Tionghoa di seluruh Indonesia. Bahkan merasakan masuk ke gedung parlemen dan ikut menahan napas saat Amien Rais, dengan peci hitamnya, berbicara di depan beberapa anggota parlemen dan mengatakan, “Dia harus turun, dan lebih cepat lebih baik.” (hal. 220).

Bab ketiga dalam buku ini menceritakan tentang pengalamannya selama di Timor Timur yang terus bergejolak meminta kemerdekaan. Memang Timor Timur dulunya “dipaksa” masuk wilayah Indonesia secara militer semasa Orde Baru pada tahun 1975. Sehingga saat Soeharto lengser, Timor Timur kembali meminta kemerdekaannya. PBB melalui Unamet menjadi penengah pemungutan suara rakyat antara dua pilihan: tetap bersama Indonesia dengan otonomi khusus atau kemerdekaan. Dan hasilnya 78,5 % rakyat Timor Timur menolak otonomi khusus.

Lagi-lagi sejarah kelam terjadi. Milisi yang jelas-jelas dibantu oleh polisi dan tentara Indonesia melakukan perusakan besar-besaran di Timor Timur, sebagai tanda penolakan kemerdekaan. Namun, pembumihangusan Timor Timur ini telah direncanakan secara hati-hati dan terperinci meski tampak tak terkendali. Ditemukannya dokumen telegram dari pemimpin militer tertanggal 5 Mei 1999 pun menjadi bukti.

Satu teori mengatakan bahwa kekerasan itu pada prinsipnya tidak ditujukan kepada orang Timor, tapi kepada provinsi-provinsi pemberontak lainnya di Indonesia—di Aceh dan di Papua. Jika ingin kemerdekaan, maka inilah yang akan mereka dapatkan (hal. 424).

Dilihat dari sampulnya saja buku ini sudah menarik. Warnanya merah menyala dengan gambar wayang besar. Mungkin orang akan mengira buku ini adalah novel biasa. Tapi ini lebih dari sekedar novel. Sejarah masa lalu dituliskan secara apik dengan bahasa yang mengalir sehingga kita akan merasa seperti ikut mengalami peristiwa demi peristiwa kelam di dalamnya.

Semangat jurnalis yang ditunjukkan oleh Richard juga patut ditiru, apalagi bagi wartawan yang ingin mendalami jurnalisme investigasi. Ia mencontohkan bagaimana dengan luwesnya ia bisa menyelinap ke kedalaman suku Dayak, bertemu dengan pimpinan milisi di Timor Leste, dan pengalaman reportase gila lainnya.

Banyak hal yang tidak terangkat ke publik justru dibeberkan oleh Richard dalam buku ini. Meski agak subjektif, karena yang dituliskannya tentu berdasarkan apa yang dikatakan oleh sumber yang ditemuinya. Namun yang namanya sejarah pasti akan selalu subjektif. Tergantung siapa yang bercerita, bagaimana latar belakangnya, dan apa kepentingannya. Namun yang jelas, buku ini cocok bagi orang-orang yang menyukai sejarah dengan segala teori konspirasinya.

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: