SUARA HATI YANG TAK TERLACAK #cerpen

4 Feb

HATI-HATI, UANG SAMPAH ANDA DIEMBAT PEMAKAN BANGKAI!

Tulisan itu besar sekali. Tertera dalam secarik kertas buram murahan yang ditempel begitu saja di pintu rumah. Oh, rupanya itu adalah sebuah judul. Di bawahnya beberapa paragraf mengikuti. Tapi itu bukan potongan koran atau hasil kopian suatu artikel. Mustahil ada wartawan yang mau meliput hingga desa kecil membosankan ini kalau tak ada peristiwa besar, genosida misalnya. Haha, sekali lagi itu mustahil. Jadi pasti ada seseorang di desa ini yang menulisnya sendiri. Aneh sekali, mengapa harus ditempel di pintu rumahku?

Selama beberapa saat aku terdiam depan pintu. Mataku bergoyang-goyang ke kanan dan kiri mengikuti baris demi baris tulisan itu. “Ibuuu…!” Aku sontak berteriak usai membaca, “Emangnya Ibu mbayar uang sampah sampai tiga puluh ribu sebulan ya?” Aku pun membawa kertas itu ke dapur cepat-cepat.

Tak hanya rumahku yang heboh. Pagi itu, tiap rumah seakan satu suara membicarakan isi kertas. Rupanya si pelaku benar-benar berniat menyebarkan berita itu ke semua orang di desa. Di papan pengumuman Gedung Serbaguna pun ada. Lebih besar bahkan, pakai kertas A3. Sudah seperti koran saja.

Sedikit yang tahu mungkin soal iuran untuk kebersihan ini. Biasa, ini adalah urusan orang tua, terutama ibu-ibu. Tiap bulannya iuran ini langsung dibayarkan ke bendahara desa sewaktu arisan bulanan sekampung. Asal tahu saja, tarif lipat ganda ini baru berlaku dua hingga tiga minggu yang lalu. Tarif baru, tukang sampah baru, gerobaknya pun baru. Kata orang-orang Pak Suroso, tukang sampah yang lama, sudah sakit-sakitan dan minta pensiun.

—-000—-

“… ketika dicek ke Bang Romdon, ternyata dia cuma terima 10 ribu saja. Jumlah yang sama dengan yang diterima Pak Suroso.”

Begitulah potongan “Suara Hati” yang aku ingat. Kertas yang tadi pagi menempel di pintu rumah itu sekarang ada di genggaman tanganku. Kusut. Selain judul raksasa yang heboh itu, aku ingat betul ada tulisan kecil di pojok kanan bawah: Ed I-RD. Aku benar-benar penasaran jadinya. Mungkin RD adalah nama samara penulisnya. Rudi? Rida? Romo Darno? Atau jangan-jangan Rahmat Darmawan? Haha, konyol.

Huh. Aku yakin artikel ini belum selesai. Masih edisi perdana. Mas atau Mbak RD ini pasti bakal meluncurkan lagi artikel lainnya. Bukti yang ia sajikan masih kurang kuat untuk menuduh uang sampah warga dipakai oknum tertentu. Hanya sebatas elaborasi fakta ‘wawancaranya’ dengan beberapa warga, Bang Romdon, juga Pak Suroso. Siapa yang bisa jamin ini benar-benar fakta atau sekadar isu agar warga heboh? Aku harus bertemu Bang Romdon hari ini!

—-000—-

“… jadi hari ini kamu ndak usah keliling dulu lho ya. Udah jelas to tadi kenapa-kenapanya? Entar saya kasih tahu lagi kapan kamu harus muter. Paling cuma dua-tiga hari tok. Sip, nuwun yo.”

—-000—-

Buset. Bang Romdon ke mana sih? Ini sudah lewat satu jam dari jadwal keliling biasanya. Rencana awal aku mau mencegat Bang Romdon sepulang sekolah di gerbang desa.  Sudah seminggu ini aku menjalani UAS sehingga aku bisa pulang lebih cepat. Aku hapal betul dia pasti lewat gerbang barat ini. Rumahnya di desa sebelah, cuma terpisah sungai. Hanya saja aku tak tahu di mana tepatnya. Sayang sekali, tampaknya aku harus menunggu lagi besok…

—-000—-

“Kalo Ibu sih ndak percaya. Sekarang ini kan banyak orang bikin macem-macem. Ndak jelas tujuannya apa. Paling cuma orang iseng biasa. Lah, kamu itu mbok ya belajar aja. Wong ya lagi UAS. Piye to? Udah masuk kamar sana!”

Duh. Masih dongkol hati ini mengingat kata-kata ibu kemarin sore. Padahal aku yakin sekali berita ini tidak main-main. Aku sudah tak sabar ingin mengecek pintu depan. Mungkin akan ada kertas tempelan lain di sana. Sudah dua hari ini tak ada tanda-tanda kehidupan “Suara Hati”.

Dan tadaaa… nihil. Tak ada apa-apa di pintu. Aku yang masih kesal bertambah uring-uringan. Kusapu halaman depan asal-asalan. Sapu baru saja mau kuletakkan di samping tong sampah, saat sudut mataku menangkap gerombolan orang berdiri depan Gedung Serbaguna. Wah. Jangan-jangan…

COBA SAJA BUNGKAM ORANG DINAS KEBERSIHAN KOTA!

Lagi-lagi ukurannya tak main-main. Judul itu tercetak cukup besar. Pilihan katanya juga berani sekali. Seperti mengajak orang berkelahi. Tampaknya edisi dua kali ini “Suara Hati” hanya diproduksi satu lembar. Spesial hanya ditempel di papan pengumuman saja. Hmm. Takutkah ia?

Secepat kilat aku langsung berlari mendekat. Mataku jelalatan membaca artikel yang masih fresh itu. “… pihak Dinas Kebersihan Kota hanya mewajibkan retribusi 9 ribu per rumah. Lalu ke manakah 11 ribu sisanya?”

Ah, sial! Siapa sih penulisnya? Bikin orang penasaran saja. Mengapa ia tak langsung sebutkan saja siapa tersangkanya. Pasti dia sudah memegang nama seseorang. Contohlah Soe Hok Gie yang berani tuliskan nama menteri-menteri Gestapu di surat kabar besar. Kalau saja selebaran itu punya kolom surat pembaca, sudah aku kirim ribuan surat ke sana.

Ngeeng… Ngeeng… Tiiin…

Tiba-tiba dua orang dengan sepeda motor datang memecah kerumunan. Salah satunya turun, dengan helm hitam dan slayer menutupi mukanya. Ia sobek artikel “Suara Hati” dengan kasar. Sebelum pergi, ia acungkan sobekan kertas itu seraya berteriak, “Bubaar!” Suaranya menggelegar. Seketika dua orang itu melesat kencang, menghilang. Semua orang yang ada di sekitar papan pengumuman terpaku. Saking terkejutnya, tak ada yang mengingat apa plat nomor kendaraan tadi.

Dengan sekejap peristiwa barusan langsung menyebar ke penjuru desa. Minggu pagi yang semula begitu cerah seketika menjadi kelam. Ayahku yang seorang sekretaris desa langsung dipanggil Pak Suha, Kepala Desa kami. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan suasana setegang ini. Desa ini selalu tenang, tak pernah bergejolak. Tak ada kriminal, tak ada huru-hara…

—-000—-

Empat hari telah berlalu. Apa yang tertulis di “Suara Hati” itu membuat para petinggi desa ini mengecek kembali catatan keuangan mereka. Bukan. Bukan bendahara desa yang bersalah. Rupanya selama ini urusan uang sampah ini diserahkan ke Kepala Keamanan Desa, Pak Edi. Bang Romdon itu sepupu jauhnya. Tapi desa kami cinta damai. Mereka tak dilaporkan ke polisi. Cukuplah jadi tukang sampah 3 bulan tanpa bayaran.

Hingga kini penulis “Suara Hati” masih tak terlacak. Hebat orang itu. Aku salut padanya meski aku tak tahu siapa. Kupandangi lagi kertas kusut edisi pertama “Suara Hati”. Tunggu. Ed I–RD. Hey, ini bukan nama samaran. Ini inisial pelakunya! Edi dan Romdon! Aku tersentak. Cerdas sekali. Sesaat kemudian aku pun kembali menekuri kertas itu, mencoba peruntungan temukan identitas penulisnya. Aku yakin pasti ada! Hm. Siapa ya? Tahukah Anda?

 

N. B. : cerpen ini sebenernya tugas uas makul dasar-dasar penulisan.  yaaa. daripada nganggur di lepi mending aku aplot aja🙂

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: