My Name is Red

11 Mar

Judul: My Name is Red (Benim Adim Kirmizi)

Penulis: Orhan Pamuk

Ooo waw… itulah kata pertama yang muncul setelah aku selesai ngebaca ini novel. Novel pemenang nobel sastra tahun 2006 ini menceritakan tentang sebuah konflik di antara iluminator-miniaturis di istana Istanbul sekitar abad ke-16. Dua orang–Elok Effendi dan Enishte Effendi–telah dibunuh oleh salah satu dari tiga empu yang bekerja sama dengan Enishte untuk sebuah buku rahasia permintaan Sultan. Hitam, suami baru Shekure diminta untuk memecahkan misteri ini dengan menelaah ‘tanda tangan’ dari tiap lukisan yang ada di buku itu bersama dengan Tuan Osman. Antara Bangau, Zaitun, dan Kupu-Kupu, pembunuh yang dengan sadis menghancurkan kepala dua korban tersebut.

Kalian harus memiliki kesabaran tingkat tinggi untuk membaca karya Pamuk yang satu ini. Sebab, di awal-awal cerita pasti kamu akan merasakan kebosanan yang amat sangat karena permasalahan yang dibahas tidaklah terlalu dimengerti–pertentangan metode melukis dari empu tua Herat dengan gaya baru yang menurut miniaturis kebanyakan menyalahi kuasa Tuhan milik kaum Frank (barat).

Yang bikin buku ini istimewa banget adalah banyaknya sudut pandang yang digunakan pengarang untuk menyampaikan kisahnya. Bayangkan masa’ mayat bisa ngomong? Bahkan anjing, sebatang kayu, setan, juga warna merah. Ada satu bagian yang jadi favoritku waktu baca buku ini, yaitu bab detik-detik kematian Enishte Effendi. Di situ tuh Enishte sendiri yang cerita gimana perasaan dia selama nyawanya dicabut sampe dia beneran mati. Digambarkan di sana sewaktu nafas tertahan di paru-parunya telah keluar, dia dapat melihat jasadnya sendiri. Ruh dia bergetar seperti merkuri seukuran lebah di tangan malaikat maut. Setelah ada di alam lain sana ia merasa kalau segala keterbatasan yang ada di dunia telah hilang.. Wah, pokoknya yang bagian bab itu tuh aku suka banget. Bahasanya jauh lebih indah dari yang aku tulis (iyalah, punya aku nggak jelas..)

Tapi, kalau menurut aku, buku ini tuh belum pantes dibaca sama anak di bawah umur, selain bahasanya yang ngejelimet ke mana-mana, di dalem ceritanya sendiri juga ada yang baru nyambung ama orang gede. Yaa.. paling nggak 25 tahun ke ataslah. Hehe..

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: