Saat Dinding pun Mencela

6 Mar

Huh, udah lamaa.. banget rasanya aku pengen mosting nih cerpen tapi nggak jadi-jadi. Sebenernya ini cerpen tuh tugas dari Pak Kusen, guru bahasa Indonesiaku. Kita disuruh ngadaptasi sebuat cerpen dan.. voila.. jadilah cerpen yang ada di bawah ini. Seru lho.. (hahaha). Oke deh, selamat membaca…!!

—- ^_^—-

Entahlah sudah berapa lama aku berdiri di sini. Hanya tegak menanti, memperhatikan segala tingkah laku anak-anak lelaki yang mulai beringas terbakar emosi. Pagi ini saja ada seorang bocah yang didorong keras ke badanku. Ia dipaksa menggantikan hukuman mencangkul lahan utara oleh si kepala botak itu. Kasihan, kaosnya yang sudah kedodoran tampaknya akan semakin melar sebab kerahnya dipuntir dan diangkat hingga membuat seluruh badannya—yang hanya setinggi kaca westafel—ikut terangkat. Kulit hitam kakinya yang membungkus langsung si tulang itu pun hanya bisa menjejak-jejak, meninggalkan bekas kehitaman di badanku. Ugh.. menyebalkan!! Tapi, anak berambut keriting ini sungguh malang. Ia hanya bisa mengangguk dengan tenaga yang tersisa.

“I..Iya, Bang. Bakal Yono kerjain..”, sahut si Keriting dengan lemah dan ketakutan. Ini sudah kali ketiga dia dipaksa untuk menggantikan tugas si Botak tak tahu malu itu. Tentu saja aku tahu, ia selalu melakukan tindakan tak terpuji itu di sini, di areaku, komplek kamar mandi paling pojok di lapas khusus anak lelaki ini. Kamar mandi yang terkenal jorok dan angker.

Bruk..!! Si Keriting dijatuhkan begitu saja.

“Haha.. baguslah. Ingat, jangan sampai ketahuan kalau aku menyuruhmu seperti ini. Nanti siang, jam 1. Aku tunggu kau di lahan utara. Jangan kira kau bisa berleha-leha di sini. Aku akan mengawasimu!” Si Botak pun menjauh dengan langkah yang pongah. Saat ia tiba di pintu depan, tiba-tiba ia berbalik dan berlari menuju bocah malang yang masih terduduk bersandar di badanku.

Bugh..!! Setitik darah dari hidung si Keriting menodai cat krem kusamku. Ooh.. tidak.. apa yang dia lakukan? Sungguh tak berperikemanusiaan!

“Itu agar kau selalu ingat!” Kemudian dia berjalan cepat keluar tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Sekarang kulihat anak itu, sendirian, menangis. Perlahan ia mengusap hidungnya, ia pun mengernyit. Entah tulang hidungnya patah atau tidak. Sesaat ia mencoba untuk tegar, berdiri dan keluar. Namun apa daya, kedua kakinya gemetar begitu hebat hinga ia terjatuh lagi. Pengalaman seperti ini sungguh tak bagus bagi kesehatan psikis seorang anak berumur 12 tahun.

Memang tak adil. Di lapas seperti ini, berlakulah hukum rimba. Walau tak sekejam di penjara-penjara Indonesia yang lain, namun tetap saja ada orang-orang seperti si Botak yang selalu mem-bully orang lemah lainnya untuk kesenangan diri sendiri. Si Keriting pun menangis lagi.

Krieek.. terdengar suara daun pintu yang terbuka dari salah satu bilik kamar mandi. Dari balik pintu tampaklah seorang remaja jangkung yang mencoba keluar dengan perlahan-lahan.

“Yon, baek-baek aja ‘kan?” ucap si Jangkung hati-hati seraya berjalan ke arahku. Raut wajahnya seketika terkesiap saat melihat ada noda darah baru yang membekas di tubuhku. Ia segera menunduk dan memegang wajah si Keriting dengan kedua tangannya.

“Ya Allah, hidung kamu…” Dan hanya sedetik, tubuh kurus itu sudah tertarik masuk dalam dekapan si Jangkung. Anak itu merangsek maju agar lebih lekat, dan si Jangkung pun berkata, “Sudahlah, tenang saja, Yon. Aku nggak bakal nyakitin kamu kayak si botak gemblung itu. Tenang saja, Dek. Aku ‘kan sudah pernah bilang..”

Dengan ragu, ia mulai mengangkat tangannya dan membelai lembut rambut keriting bocah itu. Si Jangkung tersenyum, dan ia melakukannya lagi dan lagi. Si Keriting tak melakukan apa-apa. Ia hanya membalas memegang erat tangan si Jangkung yang bebas. Hidungnya yang mulai memerah dan bengkak itu membuatnya pusing. Belum pernah seumur hidupnya ia ditinju orang dan melukai hidungnya. Tinjuan paling banter yang diterimanya hanya membuat mulutnya berdarah karena dikeroyok orang saat ia mencoba merebut tas merah seorang ibu di pasar dulu—kejahatan kriminal pertamanya, sekaligus yang menjebloskannya masuk lapas ini.

Aku tak mengerti apa yang mereka berdua lakukan. Tapi aku kenal ekspresi wajah mereka—yang jujur, aku tidak suka—saat saling berdekatan. Terang saja aku hapal, sudah berkali-kali aku melihat air muka yang tak enak seperti itu.

Aku ingat siang pada waktu itu, kurang lebih dua bulan yang lalu saat aku sedang asyik memperhatikan seekor laba-laba yang sedang memperlebar area sarangnya, tiba-tiba pintu depan kamar mandi terbuka dengan suara keras, diikuti dengan terjatuhnya seorang anak laki-laki yang berkulit sawo sangat matang yang didorong dari luar. Saking mengejutkannya, tiga ekor kecoa sampai meloncat mundur, dan seseorang yang ada di bilik kamar mandi nomor tiga di sebelah kanan dari ujung pintu juga melonjak kaget. Itu dia si Jangkung, sedang merenung. Tanpa bersuara si jangkung membuka sedikit celah pintu dan mengintip ke arah luar sana. Si Keriting tampak pucat pasi, bibirnya memutih. Ia berusaha untuk mundur menjauhi si Botak—yang saat itu masih berambut, meski cepak.

“Ampun, Bang. Saya beneran nggak tahu apa-apa. Saya masih anak baru,” rintih si Keriting.

“Hahaha.. justru itu. Makanya, kalo masih baru tuh nggak usah ngesok! Pake tuh mata! Nabrak orang seenaknya, lu kira gua tembok? Hah?!”

“Nggak, Bang. Ampun. Beneran deh, Bang. Tolong, jangan pukul saya. Abang boleh minta apa aja deh, Bang. Tapi ampuun..”

Si Botak menyeringai. Tangannya yang semula memegangi kerah kaos bocah itu dengan kuat mulai mengendur. “Hmm.. boleh juga. Oke, mulai sekarang lu harus ngegantiin gua kalo gua kena hukuman.” Si Botak pun mendorongnya ke samping.

“Minggir, gua mau lewat. Awas aja kalo lu sampai kabur. Inget itu!!” Si Botak berlalu setelah menekan kuat-kuat telunjuk jarinya ke jidat anak itu. Si pembuat masalah telah pergi. Namun, sang korban hanya bisa berdiri terpaku, menatap nanar ke arah pintu. Perlahan ia berjalan ke salah satu kran di sisi kiriku. Ia mencoba untuk mengeluarkan air dari sana, namun gagal. Maklumlah kamar mandi ini sudah tak pernah lagi dipakai kecuali kalau terpaksa. Ia pun hanya menarik napas dan jatuh terduduk kemudian bersandar di badanku.

Si Jangkung merasa iba. Saat menyaksikannya aku dapat merasakan kalau ia menahan napas agak lama saat peristiwa itu berlangsung. Ketika si Botak pergi, perlahan ia membuka pintu kamar mandi. Ia berjalan mendekati si Keriting kemudian duduk di sampingnya.

“Hidup di lapas memang berat. Sudahlah, jangan kau tangisi. Tak berguna. Hadapi saja dengan lapang,” ujar si Jangkung tanpa menggurui. Nadanya begitu hangat dan bersahabat. Si Keriting hanya mengangkat kepala dan menengok padanya. Diam. Sebulir air mata kembali menetes.

“Sudah. Berhentilah menangis,” si Jangkung mengusap air mata anak itu dan tersenyum,

“Aku Ujo. Kau?” Percakapan pun berlanjut. Memang si Jangkung begitu ramah sehingga si Keriting tak lagi menangis, bahkan ia bisa tertawa. Aku dapat merasakan kehangatan di antara mereka.

Aku begitu terharu saat melihat baiknya hati si Jangkung. Untung saja masih ada di dunia ini orang yang peduli pada sesama. Kehangatan itu sungguh jarang aku rasakan. Namun, entah indera perasaku mulai tumpul atau mengapa, tapi auranya terasa berbeda saat mereka bertemu untuk keenam kalinya, ketujuh, dan seterusnya. Mereka sering bertemu di sini, tempat favorit si Jangkung, pojok lorong kamar mandi paling angker di lapas. Aku mulai menghapal polanya, tiap Jum’at seusai makan siang. Namun siang itu aku benar-benar tak menduganya.

Si Jangkung telah datang dengan sarung bekas shalat Jum’at yang masih dipakainya. Wajahnya tampak tak sabar, berulang kali ia mondar-mandir di depan bilik-bilik kamar mandi. Entah mengapa sekarang ia begitu menanti-nanti kedatangan sahabat dekatnya itu. Pintu pun terbuka.

“Yono..!!” Seketika si Jangkung berlari, memeluk tubuh kurus itu. Lama.

“Yon, kamu diapain lagi sama si Botak? Kata anak-anak, kaki kamu luka. Benar ya??” tanya si Jangkung dengan tatapan yang begitu khawatir. Tangannya mulai meraba kaki si Keriting, tapi anak itu menahannya.

“Ah, enggak kok. Itu nggak bener.”

“Jangan bohong, aku tadi lihat kamu agak pincang.” Dengan memaksa, si Jangkung benar-benar menggulung celana si Keriting ke atas dan tampaklah luka lebam kebiru-biruan di kedua tulang keringnya.

“Yono…”

“Hiks.. hiks.. Aku nggak tahu, Kak. Tahu-tahu dia datang dengan kumpulannya dan dia.. dia..” Belum sempat si Keriting menyelesaikan perkataannya, si Jangkung mendekapnya kembali.

“Sudah, jangan diceritakan lagi kalau itu membuatmu bersedih.”

Mata mereka saling bertatapan. Ada cahaya aneh di sana yang tak kukenali. Atmosfer pun berubah. Hangat namun terlarang. Mulai saat itu, aku yakin hubungan mereka bukan sekedar sahabat karib. Tidak, lebih dari itu. Jauh. Dan itu membuatku merasa mual.
Beberapa minggu kemudian, kedua orang itu kembali bertemu di bilik favorit mereka.

“Kak, besok aku udah bebas. Masa tahananku udah selesai. Tapi, tapi aku nggak benar-benar ingin keluar..”

Si Jangkung tersenyum, “Ya ampun, yakin? Tapi kamu masih muda. Masih bisa nyari pekerjaan, tapi inget, jangan jadi jambret lagi. Cari kerjaan yang halal. ‘Kan bisa jadi loper koran, tukang ngepel, atau ngejualin tahu Cak Ali, yang kamu ceritain itu lho. Lumayan ‘kan?”

“I.. iya.. tapi, aku sudah nggak punya siapa-siapa lagi di luar sana. Tapi di sini… Di sini aku punya..” Belum selesai si Keriting berkata, ia sudah memeluk erat si Jangkung, “aku punya Kakak. Jangan tinggalin aku, Kak..”

Si Jangkung hanya bisa menarik napas. “Yon, untuk terakhir kalinya.” Matanya menatap tajam ke arah si Keriting. Ada api yang berkobar di sana.

Apa-apaan ini! Apa yang mereka lakukan? Oh Tuhan, mengapa Engkau ciptakan manusia dengan akal dan naluri bejat seperti itu. Bahkan binatang sekalipun tak akan pernah mau melakukan apa yang telah dilakukan oleh kaum Nabi Luth terdahulu. Hai, manusia! Sadarlah, bahwa itu hanya bisikan syetan yang sungguh menyesatkan. Tak malukah kalian saat dinding-dinding yang kau sebut benda tak bernyawa ini pun mencelamu? Sungguh mengerikan.

—000—

“Gila, lu. Anak sekecil itu lu embat juga?? Emang dasar..!!”

“Heh, tapi ‘kan gua nggak salah. Orang dianya juga mau. Daripada elu, cuma elu nya doang yang seneng, bisa nyalurin hobi mukul orang. Eh, dianya kesakitan. Makanya, kalo punya hobi tuh yang bisa bikin semua orang seneng..!!”

“Ih, ogah ya. Gua masih normal. Gini-gini cewek gua ada banyak di kampung.”

“Alah, bokis lu. Udahan ah. Yang penting perjanjian kita masih lanjut ‘kan? Biasa, lu yang milih korbannya dulu. Lu udah jago ‘kan milihnya. Pilih yang kira-kira masih lugu. Jadinya kita berdua bisa dapet bagian. Jangan kayak yang dulu tuh, cuma elu doang yang dapet, dianya malah sensi ama gua. Ya? Ntar kayak biasa, lu bawa ke pojokan sono. Oke, cuy?”

Diadaptasi dari cerpen “Bukan Perempuan” karya Syarif Hidayatullah

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: