Ronggeng Dukuh Paruk #1

13 Feb

Judul: Ronggeng Dukuh Paruk

Penulis: Ahmad Tohari

Penerbit: Gramedia, Jakarta

Cetakan: Kedua, Februari 2003

Akhirnya,  setelah melakukan pencarian dengan sungguh-sungguh selama satu tahun, kutemukan juga buku bersampul oranye itu.. Awalnya aku hanya berharap dapat menemukan satu judul saja, tapi ternyata, aku baru tahu kalau sudah ada penerbit yang menggabungkan ketiga buku fantastik  yang legendaris itu. Apalagi kalau bukan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, karya penulis ternama, Ahmad Tohari.
Buku ini merupakan gabungan dari buku-buku yang berjudul Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus dini Hari, dan Jantera Bianglala.

Seperti yang sudah jamak diketahui, memang sudah menjadi ciri khas dari Ahmad Tohari bahwa dia selalu bisa meggambarkan latar pedesaan dengan sungguh jelas dan indah. Kita seperti benar benar dibawa masuk ke Dukuh Paruk beserta seluruh kemelaratannya, keterbelakangannya, penghuninya yang kurus dan sakit, serta sumpah serapah cabul yang menjadi bagiannya yang sah. Ditambah dengan keramat Ki Secamenggala, bromocorah zaman Belanda, yang menciptakan dusun cabul ini (hal. 79).

Kisah bermula dari kemunculan kembali ronggeng yang telah menghilang 11 tahun dari dusun tersebut. Rohnya dipercayai telah memasuki Srintil, gadis manis yang disukai oleh Rasus. Segera, Sakarya melihat bakat tersebut dan menitipkan Srintil pada dukun ronggeng, Kartareja.

Singkat cerita, Srintil sudah resmi menjadi ronggeng setelah melewati syarat mandi kembang dan ritual bukak-klambu. Rasus merasa dirinya telah kehilangan sosok Emak dari bayangan Srintil. Orang tuanya–juga orang tua belasan anak dukuh itu–telah mati keracunan tempe bongkrek. Rasus pun pergi dari desa menuju Pasar Dawuan. Beruntung baginya, ia ditawari untuk menjadi tobang–pesuruh–tentara yang datang untuk keamanan oleh Sersan Slamet. Karena banyaknya kasus perampokan yang terjadi, ia diutus memata-matai Dukuh Paruk. Dan rupanya benar, para perampok mengincar rumah ronggeng Srintil. Dengan segenap keberanian, Rasus berhasil membunuh 2 dari 5 perampok. Tentu saja, ia segera disambut bak pahlawan dari medan perang.

Srintil benar-benar mencintai Rasus, sebagai perempuan seutuhnya, bukan sebagai Ronggeng. Dia ingin melahirkan anak Rasus dari rahimnya. Ingin tetap tinggal bersamanya di Dukuh Paruk, atau ikut pergi bergabung dengan kelompok Sersan Slamet (hal.105). Namun, Rasus sudah cukup lega. Keraguannya tentang kematian Emaknya telah hilang. Beban jiwa selama ini sudah menguap. Ia pun meninggalkan tanah air kecilnya yang tak lagi dibenci karena pernah merebut Srintil dari tangannya. Rasus juga berpikir bahwa ia telah berjasa mengembalikan jati diri pedukuhannya. Sebab, dengan menolak perkawinan yang ditawarkan Srintil, Rasus berpikir ia telah memberikan sesuatu yang paling berharga bagi Dukuh Paruk: Ronggeng! (hal.107)

Di buku pertamanya ini, Ahmad Tohari berbicara melalui tingkah Rasus yang benar-benar lugu khas anak desa. Yang hanya kenal tata krama  yang berlaku di desanya. Yang berpikir bahwa dengan menembak sebuah batu yang diukiri wajah dapat mengubur prasangka tentang Emak yang tak pernah dikenalnya. Yang meladeni kebutuhan seorang ronggeng tanpa berpikir apa artinya bagi ronggeng tersebut. Yang dengan bangganya mengenakan seragam hijau tentara bekas walau hanya menjadi tobang.

Sungguh menarik mengikuti alur ceritanya. Ahmad Tohari berusaha membuat perilaku cabul Dukuh Paruk dapat dimaklumi oleh pembaca. Dan tak salah jika trilogi ini telah ditranslasi dalam bahasa Jepang, Jerman, Belanda, juga bahasa Inggris.

Diksi yang digunakan sangatlah menarik untuk melukiskan peristiwa demi peristiwa, sehingga kita takkan bosan. Bahkan kita takkan rela untuk menutup halamannya sebelum kita sampai di akhir bab. FYI, buku ini aku baca cuma dalam waktu semalam. Soalnya, emang bikin aku penasaran, tingkah laku macam apa lagi yang akan dilakukan oleh para tokoh yang tak tertebak ini.

Layak diacungi jempol..!!

One Response to “Ronggeng Dukuh Paruk #1”

  1. nurul 24 May 2010 at 09:09 #

    benar2 buku yg luar biasa…

    Like

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: