Di Kaki Bukit Cibalak

17 Apr

cover Di Kaki Bukit CibalakPenulis : Ahmad Tohari

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Cetakan : I, September 1994

Tebal : 176 halaman, 18 cm

Ketika kita mendengar atau membaca judul buku ini, pasti sebagian besar dari kita tidak akan tertarik untuk membacanya. Padahal, buku ini sangat bagus bagi kita kalangan muda. Buku ini berkisah tentang seorang remaja tahap akhir bernama Pambudi. Dia orang yang sangat jujur dan mencintai kejujuran. Sayangnya, Lurah baru yang terpilih justru melakukan banyak kecurangan di depan matanya, di Koperasi Desa tempat ia bekerja. Dan karena tak tahan, ia protes lalu mengundurkan diri.

Singkat cerita, karena Pambudi menolong mbok Ralem mengobati kanker dari biaya yang ia kumpulkan bersama koran Kalawarta di Jogja, Lurah ditegur oleh Bupati dan Gubernur karena lalai mengawasi salah satu warganya di Desa Tanggir. Pambudi disantet Lurah namun gagal dan Pambudi pun menyingkir dari Tanggir karena difitnah menggelapkan uang. Di Jogja, ia disarankan salah satu karib lamanya untuk kuliah lagi. Dan ia pun menurut. Sambil kuliah, ia pun bekerja di harian Kalawarta. Sebelumnya ia sempat bekerja di toko seorang cina bernama Ibu Wibawa. Di sana ia bertemu Mulyani, putri Bu Wibawa, yang suka bermain TTS dan keripik usus ayam. Di akhir cerita, Pambudi pun menikah dengan Mulyani.

Latar Bukit Cibalak yang indah dilukiskan Ahmad Tohari secara sempurna, sehingga menarik dan tak membosankan. Perilaku warga Tanggir yang kawula, serba menerima, itu memang menjadi ciri khas rakyat kita, terutama rakyat Jawa. Namun dengan melibatkan sifat seperti itu dalam cerita, justru menambah keistimewaan novel pendek ini, karena pasti akan muncul rasa greget dengan sikap mereka.

Alami, karena memang kasus-kasus dalam buku ini dapat terjadi dalam kehidupan nyata. Bahkan di tahun 2009 atau mungkin lima-sepuluh tahun lagi. Tak mengada-ada, meskipun hanya cerita fiksi.

Seperti akibat mekanisasi di pedesaan, yang membuat para pengguna kerbau-sapi untuk membajak sawah menganggur. Seperti gundulnya bukit Cibalak, yang juga terjadi di sebagian besar perbukitan di Indonesia yang diakibatkan oleh keserakahan dan ketidakpedulian kita. Seperti tindakan KKN yang sudah sampai pada tingkat pedesaan, bahkan di koperasi desa sekalipun. Bahkan seperti masih masih banyaknya rakyat kita, masyarakat Indonesia yang masih saja mau mempercayai hal-hal klenik, dibodohi dengan mudahnya oleh paranormal-paranormal yang sebenarnya tidak normal itu.

Kita benar-benar diajak untuk melihat wajah asli Indonesia, yang memang ada dan banyak, sangat banyak bahkan. Bukan seperti buku-buku zaman sekarang yang hanya mencukil permukaan bumi pertiwi ini, sehingga yang dipotret pun cuma kaum minoritas yang dimayoritaskan. Rumah bagai istana, mobil bejibun, uang segudang, tidak.. tidak.. tidak.

Indonesia tidak seperti itu. Bukalah mata kalian. Lihatlah realita. Inilah Indonesia, dengan segala kebobrokan, yang diiringi dengan limpahan harta karun di tanahnya, yang terpaksa terabaikan hanya karena pemiliknya tak mau tahu dan tak mau peduli. Hanya mau bicara. Maka, sadarlah kawan!!!!

One Response to “Di Kaki Bukit Cibalak”

  1. Rohmat subagiyo 24 October 2009 at 20:31 #

    Bgus q stuju dg anda

    Like

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: