Atheis

21 Mar

Cover depan ATHEIS

Judul: Atheis

Penulis : Achdiat K. Mihardja

Penerbit : Balai Pustaka, Jakarta

Cetakan : 26, tahun 2003

Roman ini berlatarkan zaman penjajahan Jepang. Dengan menggunakan alur campurannya, roman ini terasa semakin menarik untuk dibaca. Sebab, kita harus membaca hingga tuntas untuk memahami secara utuh roman ini. Memang pada awalnya, kisah ini terasa membosankan dan membuat kita mengantuk saat membacanya. Namun, ketika kita semakin jauh menjamahi halaman-halaman buku sastra klasik ini, semakin jauh pula kita mendalami konflik yang sungguh menarik di dalamnya.

Di roman ini, kita diajak untuk memahami sebuah proses pemikiran yang pelik dari seorang atheis bernama Hasan. Sebenarnya Hasan adalah anak seorang ningrat yang notabene seorang fanatik agama. Namun, pertemuannya dengan Rusli dan Kartini, sahabat kecilnya di Panyeredan, membuat hidupnya berubah drastis. Pemikiran-pemikiran Rusli yang berbasis sosialis, dan sangat kuat menentang kapitalisme ditularkannya pada Hasan. Lama-kelamaan, karena seringnya ia bergaul dengan Rusli, terpengaruhlah ia. Hilang sudah semua ajaran orang tuanya, Hasan bahkan ikut-ikutan tak mengakui adanya Tuhan. Tuhan hanyalah hasil khayal manusia untuk menutupi ketidaktahuan manusia atas suatu hal tertentu yang ada di luar jangkauannya. Bahkan Anwar, seorang seniman anarkhis individualis–begitulah ia disebut dalam kisah–mengatakan bahwa Tuhan adalah dirinya sendiri.

Bertahun-tahun sudah ia menjadi atheis. Namun orang tuanya tiada mengetahui hal itu. Didesak oleh Anwar, Hasan pun berterus terang dan itu menyebabkan suatu pertengkaran hebat dengan ayahnya. Sampai-sampai ayahnya jatuh sakit dan meninggal dalam keadaan tertekan dengan konfliknya dengan Hasan soal perbedaan keyakinan hidup.

Roman pun terus berlanjut menceritakan kebimbangan hati Hasan mengenai keyakinannya, aqidahnya, faham hidupnya. Hingga akhirnya ia mati disiksa oleh Ken Petai. Sungguh miris hidupnya.

Saat membaca buku ini, tampaknya kita butuh konsentrasi yang lumayan tinggi. Selain bahasa yang digunakan cukup tinggi, pokok bahasan yang diulas dalam roman ini lumayan berat. Isinya seputar argumen-argumen mengenai orang-orang sosialis dan kapitalis. Tokoh-tokoh seperti Karl Marx dan Sigmund Freud banyak dikutip.

Yang jelas, buku ini memang patut dijadikan salah satu kebanggaan bagi sastra lama Indonesia. Kita sebagai warga Indonesia yang baik, sudah seharusnya mulai menghargai karya-karya bangsa sendiri. Mungkin dimulai dengan roman ini, Anda akan mulai tertarik untuk mengupas tuntas seluk beluk kesusastraan Indonesia yang indah ini.

Chao…!!

4 Responses to “Atheis”

  1. mbg tolong bikinin sinopsisnya dong mbg…. please

    Like

  2. salza 14 February 2012 at 21:47 #

    mbag bikinin sinopsisnya dong, please🙂

    Like

  3. B**** 8 April 2009 at 06:41 #

    Pengen baca. Ir, terusin deh ngulas buku2 kaya gini. Harimau! HArimau!-nya Muchtar Lubis tuh.
    Soalnya blogmu jadi bertema dan yang pasti lebih berbobot, nambah pengetahuan juga. Jadi ada referensi gitu, buat hunting di perpus.
    Ok ok? Tapi kalo mau tetep kaya blog2 orang (nulis diary gitu) juga sebenarnya nggak pa-pa. Tapi konsisten, dan dibuat lebih menarik. Kamu pasti pengen blogmu dibaca orang kan?
    Udah ah, saya hanya anak belagu. Tetep berjuang ya, sebagai blogger.

    Like

    • nirmalafauzia 10 April 2009 at 04:01 #

      betul nih,,,
      aku sekarang tahu mau ngisi apa di blogku..
      okeh,, keinginanmu terpenuhi.

      Like

Ada komentar?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: